Tampilkan postingan dengan label Movie Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Movie Review. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2013

27 Dresses: Cinta di Balik 27 Gaun


Seperti film-film lain yang bertema pernikahan, '27 Dresses' juga memilih alur ala Cinderella. Tinggal masalah waktu sampai si pangeran tampan menemukan putrinya di balik tumpukan 27 gaun. 

Jane (Katherine Heigl) adalah perempuan yang terobsesi dengan pernikahan sejak kecil. Beranjak dewasa, Jane selalu menjadi andalan sahabatnya ketika merencanakan pernikahan.

Ia setidaknya pernah 27 kali bertindak sebagai pendamping pengantin. Sampai pada saat melakukan untuk yang ke-28 kalinya, sesuatu terjadi dan menganggu kemapanan ritme hidupnya sebagai pendamping pengantin.

Di film '27 Dresses' tidak perlu sampai di menit 27 untuk bisa menebak alur cerita, ending, plus twist-nya. Semuanya berjalan sesuai dugaan dengan sedikit bumbu komedi untuk tetap membuat penonton betah memelototi layar. 

Selain Jane sebagai 'Cinderella' tentunya ada karakter adik perempuan yang 'jahat' dan pangeran tampan. 

Ibaratnya naik bus, penonton sudah tahu jalan yang akan dilewati, di mana macetnya, dan bagaimana perjalanan akhirnya. Tapi untungnya perjalanan menonton '27 Dresses' ini cukup menyenangkan dan menghibur sehingga tak perlu membuat penonton ingin turun di jalan. 

Kamis, 16 Mei 2013

27 Dresses, Repotnya Mencari Pendamping Hidup


Judul : 27 Dresses
Sutradara : Anne Fletcher
Pemain : Katherine Heigl, James Marsden, Edwards Burns, Malin Akerman
Genre : Komedi romantis
Produksi : Fox 2000 Pictures

Impian bagi kebanyakan wanita adalah menikah dengan pria yang dicintai. Tak hanya itu, gaun cantik yang bakal menjadi saksi momen terindah dalam hidup bisa menjadi bagian dari impian. Seperti halnya yang dialami Jane (Katherine Heigl).
Jane gemar membantu teman wanitanya dalam mempersiapkan acara pernikahan. Mulai dari gaun, kue, suvenir hingga undangan, semuanya Jane yang menyiapkan.
Tak hanya itu, Jane didapuk sebagai pendamping pengantin. Tentunya, dia harus mengenakan gaun sesuai tema pernikahan. Terhitung 27 gaun telah dia miliki sebagai kostum pengiring pengantin. Semuanya disimpan rapi di lemari untuk sewaktu-waktu dikenakan seusai acara.
Jane yang selalu baik dan memperhatikan orang lain, ternyata tak cukup peduli dengan diri sendiri. Dia selalu mengalah dan tak berani mengungkapkan keinginan. Seperti cintanya yang lama terpendam kepada sang bos, George (Edwards Burns).
Hingga suatu hari, dia menyaksikan George terpikat dengan adik kesayangannya, Tess (Malin Akerman), tepat pada saat dia ingin menyatakan perasaan kepada George. Tak hanya itu, dia terpaksa merelakan pria pujaannya itu menikahi Tess.
Sebagai wanita yang berkali-kali berhasil menyiapkan pernikahan, jadilah Tess dan George menunjuk Jane untuk menyiapkan pernikahan. Mau tak mau, suka tak suka, Jane yang selalu bersedia melakukan segala hal untuk orang lain bersedia membantu.
Di sisi lain, Jane berkenalan dengan seorang wartawan surat kabar yang khusus memberitakan tentang pernikahan, Kevin (James Marsden). Mereka berkenalan di sebuah pesta pernikahan teman Jane.
Kevin mulai tertarik mengangkat kisah Jane, yang dianggapnya “si pendamping pernikahan abadi”, untuk dijadikan artikel yang bisa menjadi sarana promosi di media tempatnya bekerja.
Singkat cerita, kesedihan ditinggal George dan perkenalan demi perkenalan antara dirinya dan Kevin, mempererat kedekatan mereka. Jane pun sedikit demi sedikit mulai melupakan George.
Sayang, di saat Jane mulai dekat dan mempercayai Kevin, masalah muncul. Artikel Kevin tentang Jane muncul di surat kabar. Praktis, Jane marah dan menjauhi Kevin. Berkali-kali Kevin meminta maaf, Jane selalu menghindar.
Sementara itu, pernikahan antara Tess dan George ternyata gagal dilangsungkan. Tess yang selalu berusaha menjaga imej di depan George, akhirnya ketahuan belangnya. George membatalkan rencana pernikahan.
Film yang disutradarai Anne Fletcher ini termasuk film dengan ide dan tema cerita ringan. Bagi penikmat film yang rindu akan film-film bertema chicklit, 27 Dresses tampaknya cukup mengobati kerinduan.

Selasa, 07 Mei 2013

Love Me if You Dare

Film yang berjudul asli Jeux d'enfants ini sudah cukup lama, diproduksi tahun 2003. Film berbahasa asli Perancis ini meninggalkan kesan tersendiri, dengan taste yang berbeda. Ini bukan film cinta yang mengharu biru, bukan kisah cinta yang inspiratif, bukan cerita cinta yang penuh drama dan kemelankolisan. Ini hanyalah cerita cinta yang tak biasa.

Semua berawal ketika Sophie (Marion Cotilard) terus diejek oleh teman-temannya saat dijemput bus sekolah. Julien (Guillaume Canet) kemudian memberikan miniatur carouselmilik ibunya agar Sophie terhibur. Sophie lalu menerima mainan tersebut dan mulai memaikan permainan 'tantangan gila'nya. Julien pun menjawab tantangannya dengan melepaskan rem sehingga bus melaju dengan bebas tanpa pengendara. Sejak saat itu Julien dan Sophie berteman baik dan semakin sering memainkan permainan gila mereka.


Permainan mereka dengan miniatur carousel untuk saling menantang melakukan hal-hal yang konyol, tidak wajar, kurang ajar, memalukan, dan benar-benar membahayakan terus dilakukan hingga mereka dewasa. Ayah Julien pun dibuatnya jengkel dan marah. Seperti cerita kebanyakan lainnya, berteman lama, lalu kemudiaan saling jatuh cinta. Ya, apa lagi? Namun, cinta yang mereka rasakan, malah mereka buat menjadi sebuah permainan, bahkan pernikahan pun mereka anggap sebagai sebuah permainan.

Cerita di film ini sungguh kaya warna. Penuh dengan romansa cinta yang manis, penuh dengan fantasi, namun terkadang terkesan gelap, absurd, dan gila. Film ini cocok ditotonton untuk mereka yang bosan sama drama percintaan yang mellow.

Rabu, 01 Mei 2013

REVIEW: SALT


"My name is Evelyn Salt"

Satu lagi film action di jajaran summer movies tahun 2010. Kali ini pahlawan utamanya adalah Angelina Jolie yang memang sudah pernah melakoni peran-peran yang memacu adrenalin seperti dalam Tomb Raider (2001 dan 2003)Mr. & Mrs. Smith (2005), dan Wanted (2008). Setelah bermain sangat baik dalam Tomb Raider, Jolie memang langsung mendapatkan predikat sebagai seorang wanita tangguh, didukung dengan paras cantik nan tomboy serta bibir yang sensual tentu saja penggemar Jolie tersebar di seluruh belahan dunia. Dalam beberapa film berikutnya, Jolie kembali membuktikan kalau dirinya memang pantas bermain di film bergenre action, ini yang membuat semua orang tidak sabar untuk kembali melihat aksinya dalam Salt.

Evelyn Salt (Angelina Jolie) adalah seorang agen CIA yang sudah menikah dengan seorang ilmuwan bernama Mike (August Diehl). Suatu hari salah seorang mata-mata Russia bernama Orlov (Daniel Olbrychski) datang dan membongkar sebuah rahasia yang mengagetkan. Orlov mengatakan kalau Salt adalah mata-mata Russia yang sudah terlatih sejak usia belia. Salt yang kebingungan pun langsung melarikan diri dan dikejar oleh teman-temannya di CIA, Ted (Liev Schreiber) dan Peabody (Chiwetel Ejiofor)beserta tim lainnya. Ted dan Peabody yang belum terlalu yakin kalau Salt adalah mata-mata Russia yang menyamar menjadi bingung dengan ulah Salt yang memilih untuk melarikan diri. Apakah Evelyn Salt adalah seorang mata-mata? Atau ia hanya dijebak?

Dari awal sampai akhir film kita akan disajikan adegan aksi tempo cepat dari Angelina Jolie. Kalau berkata cocok atau tidak, sudah pasti Jolie cocok sekali dengan peran seperti ini. Hanya saja entah kenapa saya merasa adegan action dalam Salt kurang 'menggigit', begitu juga dengan plot cerita. Saya merasa serba 'nanggung' ketika menyaksikan film ini. Penjabaran cerita kurang mendalam sehingga karater yang ada dalam film terasa hambar tanpa adanya emosi yang kuat. Kalau soal aksi memang Jolie terlihat sangat hebat dalam menjalankan scene demi scene, namun ada pula beberapa scene yang terasa berlebihan. Menurut saya satu-satunya faktor yang menyelamatkan film ini hanya pesona dari Angelina Jolie, entah bagaimana jadinya kalau bukan Jolie yang menjadi pemeran utama. Secara keseluruhan saya tidak mengatakan kalau film ini jelek, masuk kategori biasa-biasa saja. Saya cukup menikmati aksi hebat Mrs.Pitt disini. :)

Rabu, 27 Maret 2013

Clueless - Hanya menjual kemewahan!


Category: Movies
Genre: Romantic Comedy

Film ini sempat dicekal peredarannya di Indonesia. Konon karena pada jamannya pergaulannya digambarkan terlalu bebas dan mewah. Dianggap tidak bagus untuk adat dan kultur orang Indonesia. Padahal menurutku (sebagai org masa kini cieeeee) biasa saja. Coba aja bandingkan dengan American Pie series! Wuuhhhh Jauh kemana-mana.

Cher (Alicia Silvertone) adalah putri cantik dan modis dari seorang pengacara sukses dan kaya raya. Dia tinggal di kawasan Beverly Hills yang penuh dengan kehidupan glamour. Segala macam yang diinginkan selalu saja ada dan termujud. Teman-teman yang setia dan memujanya, fasilitas yang serba wah, baju pribadi udah bisa buka lapak di tanah abang sampai pemilihan pacar yang boleh dibilang tinggal nunjuk.

Kehidupan yang serba monoton itu akhirnya berakhir setelah satu-satu pergi meninggalkannya. Dia mulai stuck dan Clueless tentang apa yang harus dilakukan. Pfewww... Sahabat karibnya pun membencinya. Untungnya ada Josh, pemuda charming dan pintar yang sedang magang di perusahaan bapaknya. Dialah yang selalu mensupport Cher. Tanpa disadari Cher pun mencintai Josh...

Menurutku film yang sempat heboh dijamannya ini biasa-biasa saja. Masih banyak film remaja yang sejenis yang lebih bagus. Sebut saja, Ten Things I hate about you, Bring it on dan lain-lain. Nilai plusnya hanya Alicia Silverstone yang tampil cantik. Mungkin karena masih fresh kali yak!?!? Cerita juga ga istimewa-istimewa banget. Tapi mungkin bagi kalian yang hanya sekedar ingin flashback ke masa-masa jadul film ini bisa dijadikan pilihan.

Rabu, 13 Maret 2013

Perahu Kertas (2012)

Sinopsis Singkat: 
Film ini berkisah tentang pertemuan antara Keenan dan Kugy, dua remaja dengan karakter bertolak belakang. Di mana dari pertemuan tersebut memberikan mereka harapan-harapan baru tentang cinta dan masa depan.

Sinopsis Lengkap:
Kisah ini dimulai dengan Keenan, seorang remaja pria yang baru lulus SMA, yang selama enam tahun tinggal di Amsterdam bersama neneknya. Keenan memiliki bakat melukis yang sangat kuat, dan ia tidak punya cita-cita lain selain menjadi pelukis, tapi perjanjiannya dengan ayahnya memaksa ia meninggalkan Amsterdam dan kembali ke Indonesia untuk kuliah. Keenan diterima berkuliah di Bandung, di Fakultas Ekonomi. 

Di sisi lain, ada Kugy, cewek unik cenderung eksentrik, yang juga akan berkuliah di universitas yang sama dengan Keenan. Sejak kecil, Kugy menggila-gilai dongeng. Tak hanya koleksi dan punya taman bacaan, ia juga senang menulis dongeng. Cita-citanya hanya satuyaitu ingin menjadi juru dongeng. Namun Kugy sadar bahwa penulis dongeng bukanlah profesi yang meyakinkan dan mudah diterima lingkungan. Tak ingin lepas dari dunia menulis, Kugy lantas meneruskan studinya di Fakultas Sastra. 

Keenan lulus SMA setelah enam tahun tinggal di Amsterdam bersama neneknya. Keenan memiliki bakat melukis dan tidak punya cita-cita lain selain menjadi pelukis. Perjanjian dengan ayahnya memaksa ia meninggalkan Amsterdam dan kembali ke Indonesia untuk kuliah di sebuah Fakultas Ekonomi, Bandung. 

Kugy, cewek unik cenderung eksentrik, juga kuliah di universitas yang sama dengan Keenan. Sejak kecil, Kugy menggilai dongeng, punya taman bacaan, dan senang menulis dongeng. Cita-citanya hanya satu: ingin menjadi juru dongeng. Kugy meneruskan studinya di Fakultas Sastra. 

Kugy dan Keenan dipertemukan oleh pasangan Eko dan Noni. Eko adalah sepupu Keenan, sementara Noni adalah sahabat Kugy sejak kecil. Kecuali Noni, mereka semua hijrah dari Jakarta, lalu kuliah di universitas yang sama di Bandung.Mereka berempat bersahabat karib. 

Kugy dan Keenan, yang saling mengagumi, saling jatuh cinta tapi tanpa pernah sempat mengungkapkan. Kondisinya tidak memungkinkan. Kugy sudah punya kekasih: Joshua, alias Ojos. Sementara Keenan dicomblangkan oleh Noni dan Eko dengan seorang kurator muda bernama Wanda. 

Persahabatan empat sekawan mulai merenggang. Kugy menjadi guru relawan di sekolah darurat bernama Sakola Alit. Di sanalah ia bertemu dengan Pilik, muridnya paling nakal, yang ia taklukkan dengan cara menuliskan dongeng tentang kisah petualangan mereka sendiri, yang diberi judul Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Dongeng ini diberikan kepada Keenan. 

Kedekatan Keenan dengan Wanda pun berubah. Impian Keenan kandas. Ia pergi ke Ubud, tinggal di rumah sahabat ibunya, Pak Wayan. Masa-masa bersama keluarga Pak Wayan mulai mengobati luka hati Keenan. Sosok yang paling berpengaruh dalam penyembuhannya adalah Luhde Laksmi, keponakan Pak Wayan. Keenan mulai bisa melukis lagi. Berbekalkan kisah-kisah Jenderal Pilik dan Pasukan Alit yang diberikan Kugy padanya, Keenan menciptakan lukisan serial yang menjadi terkenal dan diburu para kolektor. 

Lulus kuliah Kugy langsung bekerja di sebuah biro iklan di Jakarta sebagai copywriter. Di sana, ia bertemu dengan Remigius, atasannya sekaligus sahabat abangnya. Kugy meniti karier dengan cara tak terduga-duga. Pemikirannya yang ajaib dan serba spontan membuat ia melejit menjadi orang yang diperhitungkan di kantor itu. Remi melihat sesuatu yang lain. Ia menyukai Kugy bukan hanya karena ide-idenya, tapi juga semangat dan kualitas unik yang senantiasa terpancar dari Kugy. Dan akhirnya Remi harus mengakui bahwa ia mulai jatuh hati. Ketulusan Remi meluluhkan hati Kugy. 

Karena kondisi kesehatan ayahnya yang memburuk, Keenan terpaksa kembali ke Jakarta, menjalankan perusahaan keluarganya karena tidak punya pilihan lain. Pertemuan antara Kugy dan Keenan tidak terelakkan. Bahkan empat sekawan ini bertemu lagi. Semuanya dengan kondisi yang sudah berbeda. Dan kembali hati mereka diuji.